Senin, 30 Agustus 2010

Uji Toksisitas Anastesi Lokal

UJI TOKSISITAS ANASTESI LOKAL

I. PENDAHULUAN
Obat bius lokal/anestesi lokal atau yang sering disebut pemati rasa adalah obat yang menghambat hantaran saraf bila digunakan secara lokal pada jaringan saraf dengan kadar yang cukup. Obat bius lokal bekerja pada tiap bagian susunan saraf.
Obat bius lokal bekerja merintangi secara bolak-balik penerusan impuls-impuls saraf ke Susunan Saraf Pusat (SSP) dan dengan demikian menghilangkan atau mengurangi rasa nyeri, gatal-gatal, rasa panas atau rasa dingin.
Obat bius lokal mencegah pembentukan dan konduksi impuls saraf. Tempat kerjanya terutama di selaput lendir. Disamping itu, anestesia lokal mengganggu fungsi semua organ dimana terjadi konduksi/transmisi dari beberapa impuls. Artinya, anestesi lokal mempunyai efek yang penting terhadap SSP, ganglia otonom, cabang-cabang neuromuskular dan semua jaringan otot.
Persyaratan obat yang boleh digunakan sebagai anestesi lokal:
1. Tidak mengiritasi dan tidak merusak jaringan saraf secara permanen
2. Batas keamanan harus lebar
3. Efektif dengan pemberian secara injeksi atau penggunaan setempat pada membran mukosa
4. Mulai kerjanya harus sesingkat mungkin dan bertahan untuk jangka waktu yang yang cukup lama
5. Dapat larut air dan menghasilkan larutan yang stabil, juga stabil terhadap pemanasan. lokal:
Secara kimia, anestesi lokal digolongkan sebagai berikut :
1. Senyawa ester. Adanya ikatan ester sangat menentukan sifat anestesi lokal sebab pada degradasi dan inaktivasi di dalam tubuh, gugus tersebut akan dihidrolisis. Karena itu golongan ester umumnya kurang stabil dan mudah mengalami metabolisme dibandingkan golongan amida. Contohnya: tetrakain, benzokain, kokain, prokain dengan prokain sebagai prototip.
2. Senyawa amida.
Contohnya senyawa amida adalah dibukain, lidokain, mepivakain dan prilokain.
3. Lainnya.
Contohnya fenol, benzilalkohol, etilklorida, cryofluoran. (www.medicastore.com)
II. TUJUAN PERCOBAAN
 Untuk mengetahui dan memahami efek pemberian prokain HCl dan lidokain HCl sebagai anastesi local
 Untuk membandingkan efek pemberian prokain HCl dalam dosis yang berbeda
 Untuk membandingkan efek pemberian Lidokain HCl dalam dosis yang berbeda
 Untuk membandingkan efek pemberian prokain HCl dengan lidokain HCl sebagai anastesi lokal.

III. Prinsip Percobaan
Obat anestesi lokal dapat menghilangkan sensasi pada hewan percobaan karena kemampuannya secara langsung memblokade konduksi impuls saraf sensoris secara reversibel.



















III. TINJAUAN PUSTAKA
Anastesia umum merupakan keadaan tidak terdapatnya sensasi yang berhubungan dengan kehilangan kesadaran reversibel. Banyak obat, mulai dari gas inert sampai steroid, menghasilkan anastesia pada hewan, namun hanya beberapa yang digunakan secara klinis. Anastetik yang dulu pernah digunakan meliputi eter, kloroform, siklopropan, etilklorida, dan trikloroetilen.
Anastetik menekan semua jaringan yang dapat dieksitasi termasuk neuron sentral, obat jantung, otot polos, maupun otot lurik. Akan tetapi, jaringan-jaringan ini mempunyai sensitivitas yang berbeda terhadap anastetik dan daerah otak yang bertanggung jawab untuk kesadaran adalah yang paling sensitif dibandingkan yang lainnya. Hal tersebut memungkinkan pemberian obat anastetik pada konsetrasi menghasilkan hilangnya kesadaran tanpa menekan secara nyata pusat kardiovaskuler dan respirasi atau miokard. Akan tetapi, sebagian besar anastetik memiliki batas keamanan (margin of safety) sempit.
Anastesia umum biasanya meliputi pemberian obat-obat yang berbeda untuk :
- Pramedikasi,
- Induksi anastesi;
- Rumatan anastesia.
Pramedikasi mempunyai tujuan utama, yaitu :
1. pencegahan efek parasimpatomimetika dari anastesia (brakikardia, sekresi bronkus)
2. pengurangan ansietas atau nyeri.
Pramedikasi sering dihilangkan untuk operasi minor. Bila diperlukan, obat-obat yang sesuai (misalnya hiosin) diberikan intravena saat induksi. Induksi paling sering dicapai dengan intravena tiopental atau propofol. Hilangnya kesadaran terjadi dalam beberapa detik dan dipertahankan dengan pemberian anastetik inhalasi. Halotan meupakan anastetik volatil berfluorin pertama dan dahulu banyak digunakan di Inggris. Akan tetapi, halotan berkaitan dengan insidensi hepatotoksik yang berpotensi fatal dan telah digantikan secara luas oleh obat yang lebih baru dan kurang toksik, seperti desfluran dan isofluran. Dinitrogen oksida (nitrous oxide) pada konsentrasi lebih dari 70% dalam oksigen merupakan anastetik yang paling banyak digunakan. Dinitrogen oksida digunakan dengan oksigen sebagai gas pembawa untuk obat volatil, atau bersama dengan analgesik opioid (misalnya fentani). Dinitrogen oksida menyebabkan sedasi dan analgesia, tetapi bila diberikan sendiri tidak cukup untuk mempertahankan anastesia.
Selama induksi anastesia, tahap-tahap yang jelas terjadi dengan beberapa obat, terutama eter. Pertama, terjadi analgesia (tahap I), diikuti oleh eksitasi (tahapII) yang disebabkan oleh inhibisi dari neuron retrikular inhibisi. Selanjutnya timbul anastesi pembedahan (tahap III) yang kedalamannya tergantung pada jumlah obat yang diberikan. Tahap-tahap ini tidak jelas dengan anastetik yang banyak digunakan akhir-akhir ini. (M. J. Neal,2006)
Anestesi Lokal
Anestesi lokal secara bolak-balik menghambat penghantaran impuls dan perkembangannya dalam saraf. Pada saraf sensoris, efek seperti itu yang diinginkan ketika prosedur yang menyakitkan harus dilakukan. Misalnya pembedahan atau operasi gigi.
Mekanisme Kerja
Konduksi impuls saraf terjadi dalam bentuk sebuah potensial aksi, potensial yang dapat bolak-balik secara cepat dalam potensial terkhir membran istirahat kurang dari 1 ms. Perubahan potensial ini dipicu oleh suatu stimulus yang sesuai dan disertai masuknya ion Na kebagian dalam akson saraf.. proses aliran ini melalui sebuah kanal, yaitu pori-pori membran yang dapat terbuka(diaktifkan), mengakibatkan perpindahan ion Na dengan cepat dan menurunkan gradient ion Na ekstra .
Dalam proses aliran ini melalui channel, suatu protin pori-pori membrane, yang menjadi terbuka (diaktifkan), membiarkan perpindahan ion Na dengan cepat. Anastesi local mampu menghambat ion Na. kebanyakan anestetik yang ada pada bagian kationik bentuk ampifilik. Aktivitas anestesi lokal juga ditunjukkan oleh subsatansi yang tidak bermuatan, mengusulkan suatu mengikat lokasi di (dalam) apolar daerah pada channel protein atau sekitar membrane lipid.
(Heinz Lullmann, 2000)
Agen Anestesi Lokal
Anehnya, yang pertama adalah Kokain bius lokal yang terisolasi dari daun koka oleh Albert Niemann di Jerman pada 1860-an. Klinis pertama penggunaan Kokain itu pada tahun 1884 oleh (dari semua orang) Sigmund Freud yang menggunakannya untuk menyapih seorang pasien dari kecanduan morfin. Itu Freud dan Karl rekannya Kollar yang pertama kali melihat dengan efek anestesi. Kollar pertama kali diperkenalkan ke ophthalmology klinis sebagai topikal okular (mata) obat bius. Juga pada tahun 1884, Dr William Stewart Halsted adalah orang pertama yang menggambarkan injeksi kokain ke dalam batang saraf sensorik untuk menciptakan bedah anestesi. Halsted adalah seorang ahli bedah terkemuka yang telah dilatih di Britania. Dia adalah orang pertama yang mendirikan pelatihan formal bagi dokter bedah di Amerika. Sebelum waktu itu, pembedahan diajarkan disiplin diri di kalangan dokter AS. Dia juga menemukan dan mempelopori penggunaan sarung tangan karet.
Sayangnya, banyak menyesal sendiri, ia mulai menggunakan kokain dirinya sendiri dan menjadi sangat kecanduan. Pada saat itu, tidak ada stigma yang melekat pada penggunaan kokain rekreasi, dan memperoleh pengikut di kalangan elit hari. Arthur Conan Doyle's Sherlock Holmes seharusnya menjadi seorang pecandu, dan Holmes terus Dr Watson sekitar sebagai sumber untuk obat-obatan, serta bantuan untuk komik yang disediakan. Itu menjadi cukup cepat cukup jelas bahwa sementara ciri-ciri obat bius kokain yang diinginkan, euforia dan kemudian kecanduan itu dihasilkan tidak! Pergantian abad adalah waktu yang luar biasa kemajuan ilmiah, dan disiplin baru memungkinkan kimia organik sintesis analog pertama kokain pada tahun 1905. (An analog molekul kimia di mana molekul asli semakin dimodifikasi untuk mempertahankan dan meningkatkan karakteristik holistik tertentu dari zat asli sementara Ridding itu karakteristik lain yang tidak diinginkan.) Sintetis pertama adalah procaine bius lokal, lebih baik ingat hari ini oleh para nama dagang, "Novocain".
Novocain bukan tanpa masalah. Butuh waktu yang sangat lama untuk mengatur (mis. untuk menghasilkan anestesi yang diinginkan hasil), mereda terlalu cepat dan tidak hampir sama kuat seperti kokain. Di atas itu, diklasifikasikan sebagai ester. Ester memiliki potensi yang sangat tinggi untuk menyebabkan reaksi alergi. Diperkirakan bahwa sekitar satu dari 100 orang yang menerimanya dikembangkan setidaknya reaksi alergi kecil itu.
(http://www.doctorspiller.com/local_anesthetics.htm)
Dekstrometorfan
Dekstrometorfan merupakan obat antitusif dan tidak mempunyai efek analgesia maupun adiktif. Obat ini bekerja secara sentral dengan meningkatkan ambang batuk. Kekuatannya dalam menekan refleks batuk sama dengan kodein. Dalam dosis terapi, dekstrometorfan tidak menghambat aktivitas rambut getar saluran nafas.
Indikasi dan Cara Penggunaan. Untuk meredakan batuk dan berbagai keadaan.
Kontra Indikasi. Dekstrometorfan jangan digunakan pada pasien yang sedang mendapat obat penghambat monoamin oksidase (MAOI).
Peringatan. Pemberian Dekstrometorfan dapat disertai pelepasan histamin dan harus diberikan dengan hati-hati pada anak-anak yang mempunyai kelainan atopik. Dekstrometorfan harus digunakan dengan hati-hati pada pasien yang mengalami sedasi, agitasi dan pasien yang harus tidur berbaring.
Dekstrometorfan harus diberikan dengan hati-hati pada pasien dengan penyakit hati, karena metabolismenya sangat luas dalam hati.
(S. L. Purwanto Hardjosaputra, dkk.,2008)
Anastesia Lokal
Pendahuluan:
Tidak seperti obat lain yang bertindak di daerah sinaps, anestesi lokal adalah agen-agen yang memblokir reversibel generasi dan konduksi impuls saraf sepanjang serat saraf. Mereka menekan impuls dari saraf sensorik kulit, permukaan mukosa, dan otot ke sistem saraf pusat. Agen ini secara luas digunakan di bedah, kedokteran gigi, dan ophthalmology untuk memblokir transmisi impuls di saraf perifer.
Sebagian besar anestesi lokal dapat diwakili dengan rumus umum berikut. Dalam kedua nama kimia resmi dan nama kepemilikan, obat bius lokal dapat diakui oleh "-Caine" berakhir. Hubungan ester juga dapat menjadi amida linkage. Penelitian terbaru menunjukkan bahwa obat bius lokal mengikat ke fosfolipid dalam membran saraf dan menghambat kemampuan fosfolipid untuk mengikat ion Ca 2.
Hampir semua dari bentuk dasar bebas dari obat cairan. Untuk alasan ini sebagian besar obat-obatan ini digunakan sebagai garam (klorida, sulfat, dll) yang larut dalam air, tidak berbau, dan kristalin padat. Seperti ester obat ini mudah dihidrolisis dengan hilangnya kegiatan konsekuen. Amida bentuk obat lebih stabil dan tahan terhadap hidrolisis.
(http://www.elmhurst.edu/~chm/vchembook/675localanesthetic.html)
Anestesi lokal atau regional melibatkan suntikan atau penerapan obat anestesi untuk wilayah tertentu dari tubuh, yang bertentangan dengan seluruh tubuh dan otak seperti yang terjadi selama anestesi umum. Anestesi regional biasanya mempengaruhi wilayah yang lebih luas daripada pembiusan lokal, misalnya, segala sesuatu di bawah pinggang. Akibatnya, anestesi regional dapat digunakan untuk lebih terlibat atau rumit bedah atau prosedur medis. Regional anestesi yang disuntikkan. Anestesi lokal melibatkan injeksi ke dalam kulit atau otot atau aplikasi pada kulit secara langsung obat bius di mana rasa sakit akan terjadi. Anestesi lokal dapat dibagi menjadi empat kelompok: injeksi, topikal, gigi (non-injeksi), dan tetes mata.
Anestesi lokal dan regional bekerja dengan mengubah aliran molekul natrium ke dalam sel-sel saraf atau neuron melalui sel membran. Persis bagaimana anestesi melakukan hal ini tidak dipahami, karena ternyata obat tidak mengikat untuk setiap reseptor pada permukaan sel dan tampaknya tidak mempengaruhi pelepasan bahan kimia yang mengirimkan impuls saraf (neurotransmiter) dari sel-sel saraf. Diketahui, bagaimanapun, bahwa ketika molekul-molekul natrium tidak masuk ke dalam neuron, impuls saraf tidak dihasilkan dan impuls nyeri tidak diteruskan ke otak. Lamanya tindakan anestesi tergantung pada jenis dan jumlah obat bius yang diberikan.
Regional anestesia
Jenis anestesi daerah meliputi:
* Spinal anestesi. Spinal anestesi suntikan melibatkan sejumlah kecil anestesi lokal langsung ke cairan cerebrospinal yang mengelilingi sumsum tulang belakang (dalam ruang subarachnoid). Penurunan tekanan darah sering terjadi tetapi mudah diobati.
* Epidural anestesi. Anestesi epidural melibatkan suntikan volume besar bius lokal langsung ke ruang di sekitar kantung cairan tulang belakang (ruang epidural), tidak masuk ke dalam cairan tulang belakang. Nyeri terjadi lebih lambat tetapi lebih kecil kemungkinannya untuk menghasilkan penurunan tekanan darah. Juga, blok dapat dipertahankan untuk jangka waktu yang lama, bahkan berhari-hari.
* Saraf blok. Blok saraf melibatkan suntikan obat bius ke wilayah di sekitar saraf yang memasok kawasan tertentu dari tubuh, mencegah saraf dari saraf yang membawa impuls ke otak.
Anestesi dapat diberikan dengan obat lain, seperti epinefrin (adrenalin), yang berkurang perdarahan, dan natrium bikarbonat untuk mengurangi keasaman obat sehingga akan bekerja lebih cepat. Selain itu, obat-obatan dapat diberikan untuk membantu pasien tetap tenang dan lebih nyaman atau untuk membuat mereka mengantuk.
Lokal anestesi
Anestesi lokal yang disuntikkan. Obat-obatan ini diberikan melalui suntikan untuk mematikan rasa sakit dan memberikan bantuan ke beberapa bagian tubuh selama operasi, dental prosedur, atau prosedur medis lainnya. Mereka hanya diberikan oleh profesional kesehatan yang terlatih dan hanya di kantor dokter atau rumah sakit. Beberapa umum digunakan injeksi anestesi lokal adalah procaine (Novocain), lidokain (Dalcaine, Dilocaine, L-Caine, Nervocaine, Xylocaine, dan merek lain), dan Tetrakain (Pontocaine).
Topical anestesi. Topical anestesi, seperti benzocaine, lidokain, dibucaine, pramoxine, butamben, dan Tetrakain, mengurangi rasa sakit dan gatal-gatal dengan ujung-ujung syaraf mematikan di kulit. Mereka adalah bahan dalam nonprescription berbagai produk yang dioleskan pada kulit untuk menghilangkan ketidaknyamanan terbakar sinar matahari, gigitan atau sengatan serangga, poison ivy, dan luka kecil, goresan, dan luka bakar. Produk-produk ini dijual sebagai krim, salep, semprotan, lotion, dan gel.
Anastesi gigi (NON-injeksi). Beberapa anestesi lokal dimaksudkan untuk menghilangkan rasa sakit di mulut atau tenggorokan. Mereka mungkin dapat digunakan untuk meredakan sakit tenggorokan, sakit gigi, nyeri sariawan, sakit gigi, atau ketidaknyamanan dari gigi palsu, kawat gigi, atau pegangan untuk gigi palsu. Beberapa anestesi gigi hanya tersedia dengan resep dokter. Lain dapat dibeli tanpa resep, termasuk produk-produk seperti Bil-jerawat, Orajel, Chloraseptic pelega tenggorokan, dan Xylocaine.
Anestesi tetes mata. Anestesi lokal lainnya dirancang untuk digunakan dalam mata. Anestesi yang oftalmik Tetrakain proparacaine dan digunakan untuk mematikan mata sebelum ujian mata tertentu. Dokter mata juga dapat menggunakan obat-obatan ini sebelum mengukur tekanan mata atau menghapus jahitan atau benda asing dari mata. Obat ini harus diberikan hanya oleh ahli kesehatan yang terlatih.
(www.drugs.com)
Supositoria juga dimaksudkan untuk mendapatkan efek lokal tanpa mengenai tepian rektum. Supositoria untuk anastetik lokal (gatal pada anus), umumnya digunakan untuk menghilangkan priutus ani dari berbagai penyebab dan rasa sakit dan kadang-kadang berhubungan dengan hemoroid. Banyak supositoria hemoroid dalam perdagangan mengandung beberapa macam bahan obat termasuk astrigen, pelindung anastetika, pelincir dan lain-lainnya dengan maksud untuk menghilangkan keadaan rasa tidak enak. Supositoria katartika merupakan bahan yang bila kontak dengan mukosa kolon akan langsung bekerja menghasilkan peristalsis normal. Karena pengaruh kontak terbatas pada kolon, maka motilitas usus halus tidak cukup dipengaruhi. Supositoria katartika lebih cepat bekerja daripada pemberian obat secara oral. Supositoria bisakodil biasanya efektif dalam waktu 15 menit sampai 1 jam, dan supositoria gliserin biasanya dalam beberapa menit saja setelah dimasukkan.
(Howard C. Ansel , 2005)
Sistem anestesi
Untuk memahami kejadian kritis selama anestesia harus dibentuk suatu konsep yang pasti tentang sitem anestesi. Yang dimaksud dengan ‘sistem’ disini adalah kesatuan dari komponen-komponen yang saling berkaitan satu sama lain dalam sebuah lingkungan tertentu yang bertujuan memberikan suatu hasil, dalam hal ini adalah suatu pelayanan anestesia yang aman, efisien dan efektif. Sistem ini dapat terdiri dari manusia dan juga komponen-komponen teknik, yang dikenal dengan istilah ‘sistem manusia-mesin’ (man-machine systems).
Dalam sistem anestesia yang termasuk komponen adalah ahli anestesi, pasien, mesin anestesi, mesin pemantau, personil ruang operasi (ahli bedah, perawat, teknisi), peralatan ruang operasi dan fasilitas lain dan juga kebijaksanaan pihak rumah sakit. Kesemua komponen tersebut harus dipertimbangkan sebagai suatu penyebab timbulnya faktor yang dapat mempengaruhi atau dipengaruhi oleh sistem. Konsep ini harus selalu diingat, tidak saja ketika melakukan penyelidikan terhadap terjadinya suatu kecelakaan anestesia tapi juga yang lebih penting adalah ketika melakukan evaluasi pada hasil yang optimal dari sistem secara keseluruhan.
Karateristik Sistem Suatu sistem dibedakan karateristiknya menurut jumlah komponen yang terlibat, bagaimana komponen-komponen tersebut saling berinteraksi (derajat kompleksitas) dan bagaimana fungsi dari sistem tersebut (derajat penyatuan).
Suatu sistem dikatagorikan mempunyai interaksi yang kompleks bila terdapat suatu urutan yang tidak biasa, adanya urutan yang tidak direncanakan dan diharapkan. Sedangkan yang termasuk sederhana adalah bila terdapat suatu prosedur rutin, urutan pemeliharaan, atau bila tidak direncanakan sebelumnya peristiwa yang timbul itu mudah diketahui. Bagi seorang ahli anestesi, interaksi yang terjadi di ruang operasi umumnya tergolong suatu sistem yang kompleks.
Derajat penyatuan dinilai dari renggang hingga erat. Penyatuan yang erat umumnya kurang mempunyai toleransi terhadap kondisi tertentu, dapat ditandai dengan adanya masalah dengan struktur (keterbatasan personil dan alat), proses (keterbatasan pemilihan tindakan karena alasan personil maupun alat) dan keluaran (toleransi terhadap penundaan).
Anestesia normal, kejadian, kejadian kritis dan kecelakaan
Walaupun secara teori terdapat suatu anestesia yang ‘normal’, namun dalam klinik kondisi ini tidak pernah dapat diwujudkan. Performa manusia dalam sistem anestesi tidak pernah sempurna, oleh karenanya selama perjalanan anestesia selalu terjadi banyak kesalahan (kelalaian ataupun kesalahan instruksi). Seperti dalam kasus dibawah ini :
Pasien yang direncanakan akan dilakukan arthroscopi dalam anestesia, setelah memberikan obat induksi ahli anestesi menyuntikan pelumpuh otot yang mendepresi sistem simpatis. Direncanakan pemberian lambat 1 ml opioid, yang mempunyai efek vagotonik, namun karena kerancuan suasana ahli anestesi lupa memperlambat laju carian infus sebelum pemberian opioid (kesalahan karena kelalaian) dan karena kerancuan yang sama ternyata disuntikan 2 ml opioid (kesalahan instruksi). Sementara itu ahli bedah telah memulai operasi tanpa memberi tahu ahli anestesi. Disini dua kesalahan (yang umum) dikombinasi dengan faktor instrinsik pasien (sehat namun gelisah).
Penurunan laju jantung ini adalah suatu kejadian (incident) yang merupakan suatu hasil dari beberapa kondisi dan peristiwa, dalam hal ini menyebabkan terjadinya bradikardi. Kejadian serupa ini harus dipertimbangkan sebagai suatu keadaan yang manusiawi, dan keberadaannya tidak menunjukkan adanya suatu kejahatan atau kesalahan secara moral pada pemberian anestesia. Pada kenyataannya ‘situasi yang tidak aman’ ini banyak yang tidak disadari dan tidak dilaporkan, sehingga pada akhirnya tidak dapat dikenali secara jelas. Bila suatu ‘kejadian’ timbul, hal tersebut dapat berlanjut ataupun mencetuskan timbulnya suatu ‘kejadian kritis’. Perubahan menjadi suatu ‘kejadian kritis’ ditandai dengan bertambahnya potensi yang dapat merugikan pasien. (Davies JM, 1995)

V. METODE PERCOBAAN
5.1 Alat dan Bahan
5.1.1. Alat
- Koran
- Timbangan elektrik
- Syringe 1 ml
- Stopwatch
- Penjepit kertas (untuk test anastesi)
5.1.2. Bahan
- Mencit
- Larutan Prokain HCl 1,25%
- Larutan Lidokain HCl 1,25%

5.2. Prosedur Percobaan
1. Hewan ditimbang dan ditandai.
2. Diamati kelakuannya (sikap, pernafasan,pupil mata bola mata)
3. Dihitung dosis dengan pemberian sebagai berikut:
 Mencit 1 Larutan Prokain HCl 1,25% dosis 125 mg/kg BB
 Mencit 2 Larutan Lidokain HCl 1,25% dosis 125 mg/kg BB
 Mencit 3 Larutan Lidokain HCl 1,25% dosis 150 mg/kg BB
 Mencit 4 Larutan Prokain HCl 1,25% dosis 125 mg/kg BB
3. Disuntikkan larutan obat secara sub kutan
4. Diamati masing-masing mencit selang 10 menit selama 90 menit.
5. Dibuat tabel pengamatannya
Gejala umum :
- Normal - reaktif
- gerak lambat - tidur
- ekor naik - depresi nafas
- kejang - anastesi
- mati (kalau ada)



VI. PERHITUNGAN, DATA, GRAFIK DAN PEMBAHASAN
6.1. Perhitungan Dosis
Mencit I
berat badan = 32,3 g
dosis Prokain HCl = 125 mg/kgBB (Subkutan)
konsentrasi = 1,25%

Mencit II
berat badan = 23,4 g
dosis Lidokain HCl = 125 mg/kgBB (Subkutan)
konsentrasi = 1,25%


Mencit III
berat badan = 34,5 g
dosis Lidokain HCl = 150 mg/kgBB (Subkutan)
konsentrasi = 1,25%


Mencit IV
berat badan = 28,3 g
dosis Prokain HCl = 150 mg/kgBB (Subkutan)
konsentrasi = 1,25%


6.2. Data Percobaan


6.3. Grafik Percobaan
-


6.4. Pembahasan
Dalam percobaan uji toksisitas anastesi lokal, digunakan dua jenis obat anastesi yaitu Prokain HCl (bentuk ester) dan Lidokain HCl (bentuk amin) dengan penyuntikan secara subkutan. Dan diperolehlah data percobaan, dimana efek yang ditimbulkan dari Prokain HCl lebih cepat dibandingkan Lidokain HCl. Hal ini sesuai dengan teori yang menyatakan bahwa yang lebih kuat dan cepat itu adalah Lidokain.
Menurut Tan Hoan Tjay (2006), dibandingkan Prokain khasiat Lidokain lebih kuat dan lebih cepat kerjanya (setelah beberapa menit), juga bertahan lebih lama (plasma-t1/2 1,5 – 2 jam, lama kerjanya 60-90 menit). Prokain merupakan anastesi lokal dari kelompok ester, kelompok ini bekerja singkat. Dalam tubuh, zat ini dengan cepat dihidrolisa oleh kolinesterase menjadi dietilaminoetanol dan PABA yang mengantagonis kerja sulfonamida. Resorpsinya dikulit buruk, maka hanya digunakan sebagai injeksi dan sering kali bersamaan dengan adrenalin untuk memperpanjang daya kerjanya.
Lidokain adalah anastetik lokal pertama yang diterima secara umum yang tidak mempunyai ikatan ester seperti pada kokain, prokain dan tetrakain. Dengan demikian penemuan ini mengarahkan sintesis kimia dengan dasar yang jauh lebih luas. Keuntungan lain dari pemakaian lidokain adalah kestabilan larutannya dalam air yang memungkinkan strilisasi panas dan setelah disimpan lama aktivitas farmakologinya tetap terjamin.
Hal ini disebabkan kesalahan dalam penyuntikkan secara subkutan, seperti yang dianjurkan pada prosedur. Mungkin pada saat penyuntikkan, ada obat yang keluar dan tidak masuk ke dalam subkutan hewan percobaan (mencit).
Mencit 4 (pemberian Prokain 1,25% dosis 150 mg/kg BB) pada percobaan mengalami kematian. Penyebabnya juga pada tahap penyuntikkan. Dalam prosedur penyuntikkan seharusnya dilakukan subkutan, namun mungkin pada prakteknya telah menjadi penyuntikkan secara intraperitonial. Karena menurut Howard C. Ansel (2005), penyuntikkan dengan rute subkutan dilakukan dengan menyuntikkan obat di bawah permukaan kulit yang umumnya dilakukan di jaringan longgar lengan, lengan bawah, paha atau bokong. Sedangkan secara intraperitonial adalah langsung ke dalam rongga perut dan obat langsung diabsorbsi. Lainnya halnya dengan intrakutan (intradermal), yaitu obat disuntikkan ke dalam lapisan kulit yang lebih vaskular di bawah epidermi
VII. KESIMPULAN DAN SARAN
7.1. Kesimpulan
- Pemberian Prokain HCl dan lidokain HCl mengahasilkan anastesi lokal yang bekerja mencegah pembentukan dan konduksi impuls saraf dan mencegah pembentukan kanal Na+, sehingga ambang rangsang membrane akan meningkat secara bertahap, kecepatan peningkatan potensial aksi menurun, konduksi impuls melambat dan factor pengaman konduksi saraf juga berkurangyang akhirnya mengakibatkan penurunan kemungkinan menjalarnya potensial aksi, akibatnya terjadi kegagalan konduksi saraf.
- Semakin besar dosis prokain HCl maka efek terapinya akan semakin besar / lama
- Semakin besar dosis lidokain HCl maka efek terapinya akan semakin besar / lama
- Duration of action lidokain HCl lebih panjang dibandingkan dengan prokain HCl

7.2. Saran
- Sebaiknya digunakan obat anastesi yang berbeda sehingga dapat dibandingkan efek dari jenis obat anestesi tersebut.
- Sebaiknya hewan percobaan yang akan digunakan dalam praktikum belum pernah digunakan pada praktek lainnya sehingga hasil yang diperoleh lebih akurat










DAFTAR PUSTAKA

Anonima. (2005). Anesthesia Medications
www.drugs.com
Anonimb. (2008). Obat Bius Lokal/Anastesi Lokal.
www.medicastore.com
Ansel, Howard C. (2005). Pengantar Bentuk Sediaan Farmasi. Edisi Keempat. Jakarta : UI Press. Hal. 594.
Charles E. Ophart. (2003). Local Anesthetics
http://www.elmhurst.edu/~chm/vchembook/675localanesthetic.html
Davies, JM. (1995). Critical Incidents During. In: Healy TEJ, Cohen PJ, eds. A Practice of Anaesthesia. London : Edward Arnorld. Hal : 37, 924.
Hardjosaputra, S.L. Purwanto. (2008). Data Obat di Indonesia (DOI). Edisi XI. Jakarta : PT. Muliapurna Jayaterbit. Hal. 351.
Lullmann, Heinz, dkk. (2000). Color Atlas of Pharmacology. Second Edition. New York : Thieme Stuttgart. Hal 204.
Martin S. Spiller. (2000). The Local Anesthetics.
http://www.doctorspiller.com/local_anesthetics.htm
Neal, Michael J. (2006). At a Glance Farmakologi Medis. Edisi Kelima. Jakarta : Penerbit Erlangga. Hal. 52.













LAMPIRAN
Gambar Alat dan Hewan Uji

Gambar 1. Mencit Gambar 2. Timbangan Elektrik












Gambar 3. Alat Suntik Gambar 4. Akuades, Lidokain dan Prokain















Gambar 5. Penjepit kertas (test anastesi) Gambar 6. Jam / Stopwatch

2 komentar:

  1. sangat membantu artikelnya,, kebetulan mahasiswa farmasi juga...hehhehe
    lagi iseng aja baca"...
    siipppp

    BalasHapus